CARA MENDETEKSI SEBUAH KONSPIRASI KEBOHONGAN
Iya, artikel ini adalah counter
attack-nya artikel Cara Berbohong. Biar adil aja
gitu. Kebohongan memang seolah sudah menjadi hal yang biasa terjadi di lingkungan
kita sehari-hari. Banyak orang yang dengan ringan membuat
kebohongan-kebohongan. Ada yang ketara banget, ada yang jago bohong.
Kalau kamu ngerasa sering banget dibohongin, ada
baiknya kamu baca artikel ini, biar nggak bego-bego amat lah. Kalau ternyata
kamu lah orang yang suka bohong, kamu HARUS baca artikel ini, biar makin jago
berbohong dan sangat sulit bagi orang lain untuk mendeteksi kebohongan kamu.
Jadi gimana cara mengidentifikasi kebohongan?
1. Memberi Fakta Yang Tidak Bisa
Dibuktikan
Itu adalah pertanda nomor wahid bahwa seseorang berbohong.
Para pembohong-pembohong akan memberikan fakta-fakta palsu, mengemas fakta
palsu tersebut dengan sangat meyakinkan dan memastikan bahwa kamu tidak bisa
membuktikan kepalsuan dari fakta tersebut.
Contoh skenarionya begini:
Pembohong: “Iya
dek, kalau ikutan jadi anggota kami, adek cukup cari anggota lain, trus bakal
dapet duit. Banyak loh duitnya. Temen kakak ada yang udah pernah dapet kapal
selam dari perusahaan ini, itu karena dia giat bekerja, dek!”
Kamu: “Ngemeng
aje, ada fotonya gak?”
Pembohong: “Wah
kalau foto sih nggak ada, ehe ehe, tapi beneran! Kalau nggak percaya adek
dateng aja ke Tanjung Perak, renang sejauh 400 meter dari dok kapal, trus
periksa deh dasar lautnya. Kapal selam temen saya diparkir di situ!”
Nah doi udah fix bohong nih kalau begini.
2. Tidak Menatap Mata Kamu
Kalau yang ini psikologis banget nih. Pada dasarnya semua
orang yang berbohong itu takut ketahuan, jadi ketika seseorang berbohong, dia
nggak berani untuk melihat ekspresi orang yang dibohongi. Gimana caranya? Tentu
saja dengan melihat ke arah lain, selain mata orang yang dibohongi.
Nggak tau kenapa, ketika orang berbohong, biasanya orang
melihat ke kiri (kirinya orang yang bohong ya, bukan yang dibohongi). Jadi
lain kali kalau kamu curiga kamu sedang dibohongi dan orang yang membohongi
kamu melihat ke arah kiri, kamu bisa bilang: “Eh coba ulangi lagi dong
bohongnya, sekarang sambil liat ke aku”. MBDC nggak sabar untuk bilang kayak
gini, sayangnya kita jarang dibohongi. Hiks.
3. Memberi Penjelasan yang Terlalu
Detail
Namanya juga bohong, berarti orang tersebut sedang
menceritakan sesuatu yang nggak bener-bener terjadi. Maka dari itu, dia sendiri
sebenernya nggak terlalu tahu sisi mana yang harus diekspose dari sebuah
kejadian. Ujung-ujungnya, semua diceritain dan ceritanya jadi terlalu detail.
Misalnya kamu terlambat masuk kantor dan ditanyain bos kamu
kenapa kamu terlambat dan kamu menjelaskan kalau tadi di rumah kamu kekunci di
kamar mandi.
Kalau kamu jujur, ceritanya akan (kurang lebih seperti ini):
“Iya bos, maaf ya terlambat, tadi pagi tuh saya kekunci di
kamar mandi. Jadi musti bongkar handle pintu dulu baru bisa berangkat. Maaf
ya.”
Nah kalau kamu bohong, kamu akan berusaha semampu kamu untuk
meyakinkan orang yang sedang kamu bohongi, jadi ceritanya kurang lebih seperti
ini:
“Jadi gini lho bos, tadi pagi itu sebenernya saya udah
bangun tepat waktu! Waktu saya abis mandi, saya mau buka pintu kamar mandinya,
eh, ternyata handlenya rusak, kuncinya nyangkut gitu deh nggak bisa diputer.
Jadi saya teriak-teriak dari kamar mandi, untung adik saya denger. Abis itu
adik saya pergi manggil tukang kunci, eeeeh ternyata tukang kuncinya masih
tidur. Tukang kuncinya mau mandi dulu katanya, eeeeh malah dia ikutan kekunci
di kamar mandi. Jadi tukang kuncinya musti ngurusin kunci pintunya dia sendiri
dulu, baru ngurusin kunci saya. Hehehe. Maaf ya bos….”
www.serupedia.com

0 komentar:
Posting Komentar